17 November 2011

Gemba Kaizen


Pengertian Gemba Kaizen

Konsep Gemba Kaizen merupakan model dari teori “Z”, tetapi karena bersifat “kemanajemenannya” yang lengkap dan teruji dengan baik, konsep ini sukses dilaksanakan di Jepang dan kemudian meluas ke negara lain. Oleh karena itu perlu dicermati lebih lanjut sebagai konsep manajemen pemberdayaan SDM yang utuh.

Gemba diartikan sebagai tempat yang sebenarnya, tempat di mana kejadian terjadi atau tempat di mana produk, jasa pelayanan dibuat. Karena itu gemba terdapat di mana-mana.

Kaizen (Ky’zen), diartikan sebagai penyempurnaan, perbaikan berkesinambungan melibatkan semua orang, baik manajer (pimpinan) dan karyawan dengan biaya yang tidak seberapa. Falsafah kaizen berpandangan bahwa cara hidup kita, apakah kehidupan kerja, kehidupan sosial, kehidupan rumah tangga, hendaknya berfokus pada upaya perbaikan terus menerus, kecil bertahap, berguna (berlawanan dengan inovasi yang drastis, yang sekali gebrak dan berbiaya tinggi). Kaizen adalah integrasi dari Total Quality Control (TQC), cacat nihil (Zero Damaged = ZD), tepat waktu (Just in Time = JIT) dan sistem saran (SS). Dengan demikian kaizen adalah TQC + ZD + JIT + SS.

Dengan demikian esensinya Gemba Kaizen dapat diartikan sebagai perbaikan kualitas langsung di tempat kerja (Imai, 1999, 2001).

Prinsip-prinsip Gemba Kaizen

Strategi kaizen meliputi pandangan terhadap fungsi tugas; pandangan terhadap konsep perbaikan; hubungan proses dan hasil; siklus Plan Do Check - Act (PDCA) = Rencanakan – Kerjakan – Periksa – Tindak lanjut dan siklus Standardize Do Check - Act (SDCA) = Standarisasi – Kerjakan – Periksa – Tindak lanjut; mengutamakan kualitas; berbicara dengan data yang akurat dan pentingnya posisi konsumen.

Pandangan terhadap fungsi tugas dan konsep perbaikan, dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1
Pandangan Terhadap Fungsi Tugas, Inovasi dan Kaizen



 
(Sumber : Imai, 2001; Amin Ibrahim, 2003)

Dari gambaran di atas terlihat bahwa perbaikan sama pentingnya dengan pemeliharaan, perbaikan dibagi menjadi kaizen dan inovasi (Kaizen lebih diutamakan). Kemudian terlihat pula pentingnya peran semua tingkat manajemen dalam bekerja sama, baik itu manajemen puncak, manajemen madya, pengawas dan karyawan dengan batas-batas yang longgar. Kaizen menekankan pola pikir berorientasi proses, karenanya harus disempurnakan terus menerus agar hasil dapat meningkat. Kegagalan dari hasil, berarti kegagalan dalam proses, kegagalan pada upaya manusianya, sangat berbeda dengan orientasi hasil (by objective) semata-mata. Untuk lebih jelasnya bagaimana hirarki keterlibatan dalam Kaizen dari semua tingkat manajemen, dapat disederhanakan sebagai berikut :


Tabel 1
Hirarki Keterlibatan dalam Kaizen

No
Manajemen Puncak
Manajemen Madya dan Staf
Penyelia (Supervisor)
Karyawan (Anggota)
1
Bertekadlah untuk mengintroduksi Kaizen sebagai strategi perusahaan/ organisasi
Sebarluaskan dan implementasikan sasaran Kaizen sesuai arahan manajemen puncak (MP) melalui jalur fungsional/silang agar semua mengetahuinya
Pergunakan Kaizen dalam peranan fungsional
Libatkan diri dalam Kaizen melalui sistem sasaran dan aktivitas kelompok kecil
2
Berikan dukungan dan pengarahan untuk Kaizen dengan alokasi sumber daya
Pengenalan Kaizen dalam kapabilitas fungsional
Formulasikan rencana Kaizen dan berikan bimbingan kepada karyawan
Praktekkan secara disiplin di tempat kerja (di Gemba) masing-masing
3
Tetapkan kebijakan Kaizen dan sasaran-sasaran fungsional silang
Tetapkan, pelihara dan tingkatkan standar
Sempurnakan komunikasi dengan karyawan dan pertahankan moral tinggi
Libatkan diri dalam pengembangan diri yang terus menerus supaya menjadi pemecahan masalah yang lebih baik
4
Realisasi sasaran Kaizen melalui penyebarluasan kebijakan dan audit
Usakan karyawan sadar Kaizen melalui program lebih intensif
Dukungan aktivitas kelompok kecil (seperti gugus kendali mutu) dan sistem sasaran individual
Tingkatkan keterampilan dan keahlian melalui pendidikan/ latihan silang secara terus menerus
5
Rancangan sistem, prosedur dan struktur yang membantu Kaizen lebih jelas tahapan-tahapannya.
Bantu karyawan memperoleh keterampilan dan alat pemecahan masalah
Berikan sasaran Kaizen lebih lanjut

(Sumber : Imai, 2001; Amin Ibrahim, 2003)

Untuk melihat perbedaan konsep kaizen (Jepang) dan inovasi (Barat) dapat dilukiskan sebagai berikut.

Tabel 2
Perbandingan Konsep Kaizen dan Inovasi

No
Fokus
Kaizen
Inovasi
1
Dampak
Jangka panjang, berlangsung lama, tidak dramatis
Jangka pendek, dramatis
2
Kepercayaan
Langkah pendek
Langkah panjang
3
Kerangka waktu
Terus menerus dan meningkat
Sebentar-sebantar, tidak meningkat
4
Perubahan
Berangsur-angsur dan tetap
Mendadak dan mudah berubah
5
Keterlibatan
Setiap orang
Memilih beberapa “juara”
6
Ancangan
Kolektivisme, usaha kelompok, ancangan sistem
Individulisme murni, ide dan usaha individual
7
Cara
Pemeliharaan dan penyempurnaan
Merombak dan membangun kembali
8
Yang mendorong
Pengetahuan keahlian konvensional
Terobosan teknologi, penemuan baru, teori baru
9
Persyaratan praktek
Investasi kecil, tetapi usaha besar untuk pemeliharaan
Investasi besar, tetapi usaha untuk pemeliharaan kecil
10
Orientasi usaha
Manusia
Teknologi
11
Kriteria evaluasi
Proses dan usaha untuk memperoleh hasil yang lebih baik
Hasil keuntungan
12
Keuntungan
Berjalan baik dalam pertumbuhan ekonomi lambat, tetapi terus meningkat
Lebih sesuai untuk pertumbuhan dengan ekonomi cepat
13
Informasi
Terbuka, dibagikan
Tertutup, perorangan
14
Organisasi
Fungsional silang
Lini dan staf
15
Fungsi umpan balik (feedback)
Luas, terus menerus dari berbagai tingkatan dan eksternal (lingkungan)
Terbatas
16
Fokus perhatian
Pada semua pihak (bersifat umum) dan semua jenis
Pada keahlian tertentu
17
Sifat/sumber
Kreativitas
Adaptasi terus menerus terhadap tuntutan perubahan

  (Sumber : Imai, 2001; Amin Ibrahim, 2003)


Selanjutnya posisi PDCA dan SDCA dapat digambarkan sebagai beriku.

Gambar 2
Siklus PDCA dan SDCA




(Sumber : Imai, 2001; Amin Ibrahim, 2003)

Gemba Kaizen sebagai suatu Sistem

Dari prinsip-prinsip kaizen di atas, dirancang sistem utama kaizen yaitu merupakan  intergrasi dan interkasi antara Total Quality Management (TQC = Pengawasan Mutu Terpadu), subsitem produksi Just in Time (JIT = Tepat Waktu), Total Prductive Maintenance (TPM = Pemeliharaan Produksi Terpadu), penjabaran kebijakan perusahaan/organisasi (policy  deployment), sistem saran (suggestive system) dan kegiatan-kegiatan kelompok kecil (small group activities) yang dinamis dan profesional.

Sasaran akhir dari strategi (inklusif sistemnya) adalah perbaikan kualitas, biaya dan penyerahan (QDC) seperti yang telah diuraikan di atas, dengan menentukan prioritas-prioritas perbeikan pada semua tingkatan proses, yang berarti pemberdayaan SDM secara terus menerus.

Implementasi Gemba Kaizen

Dalam implementasinya, strategi kaizen diterapkan dalam bangunan gemba dengan menganut prinsip kebersamaan (top downbutton up, secara serasi), yang dapat digambarkan sebagai berikut :


Gambar 3
Bangunan Manajemen Gemba




 
 
(Sumber : Imai, 1999; Amin Ibrahim, 2003)

Dari gambaran di atas, dimaksudkan seluruh kegiatan kaizen dilakukan di gemba (tempat kerja) yang ada dimana-mana sesuai masalahnya. Selanjutnya dapat diterangkan sebagai berikut :
1)      Standarisasi diperlukan agar ada aturan dan tolak ukur yang jelas dalam proses Kaizen dalam mengelola sumber daya (tenaga kerja, informasi, pralatan dan material). Standarisasi dapat dan harus diubah bila ternyata tidak sesuai lagi.
2)      Standarisasi, 5 R (pemeliharaan tempat kerja), dan penghapusan muda (pemborosan) merupakan tigas pilar utama kaizen. Tiga pilar ini penting dalam upaya mencapai QDC (Kualitas – Kontrol – Penyerahan) yang berhasil, ramping (dinamis) dan efisien.
3)      Dalam melaksanakan kaizen langsung dianut 5 (lima) aturan dasar, disebut “aturan emas”, diantaranya: (a) Bila masalah (ketidakwajaran) muncul.ditemukan, langkah pertama segera ke gemba dimana masalah tersebut terjadi; (b) Periksa keadaan gembutsu (objek/benda dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan masalah yang terjadi); (c) Lakukan  penanganan sesaat, langsung di tempat kejadian; (d) Temukan akar penyebab masalah;
(e) Standarisasi (ulang) guna mencegah terulangnya masalah, dan didata dengan baik.
4)      Mengenai manajemen kualitas, biaya dan penyerahan di gemba perlu digaris bawahi hal-hal sebagai berikut : (a) kualitas bukan sekedar hasil keluaran, tapi hasil dari standarisasi, dalam gemba yang beriklim kerja yang baik (5 R), dan dengan biaya yang rendah, untuk mencapainya diperlukan latihan keterampilan, sehingga tidak pernah dihasilkan produk yang cacat. Didorong terus upaya kegiatan kelompok, sistem saran, pengumpulan data, sehingga didapatkan standarisasi yang lebih dan dan lebih baik; (b) Penghematan di gemba dilakukan dengan meningkatkan kualitas, produktivitas, mengurangi tempat penyimpanan/persediaan, memperpendek jalur produksi, mengurangi gangguan teknis, mengurangi ruangan kerja yang tidak perlu, mempersingkat waktu sehingga prosedur menjadi singkat, fleksibel, efisien, “bebas kesalahan”, bebas kemacetan, penyerahan tepat waktu. Tetapi harus diingat penghematan biaya dan peningkatan kualitas harus serasi; (c) Untuk merumuskan standarisasi, diperlukan standar kerja dengan ciri-ciri: merupakan cara terbaik, teraman, termudah dalam melaksanakan tugas yang menyangkut penerapan profesional yang telah diperoleh, dan terus dikembangkan. Standar kerja juga diperlukan untuk memperbaiki proses, petunjuk bagi latihan, dasar audit dan diagnosis, sarana untuk mencegah pengulangan kesalahan dan meperkecil keanekaragaman yang tidak diperlukan; (d) Mengenai 5 R yang meliputi ringkas, yang berarti dapat membedakan apa yang diperlukan dan tidak diperlukan di gemba. Rapi dan resik sehingga setiap sarana siap pakai dan mudah dijangkau. Rawat meliputi diri, alat dan lingkungan. Rajin yang berarti disiplin dengan standarisasi yang telah ditetapkan bersama. Ternyata prinsip 5 R ini telah dianut juga oleh negara Barat dengan modifikasi seperlunya seperti di Amerika Serikat dengan 5 S : Sort (memilah), Straighten (meluruskan), Scrub (gosok), Systematize (sistemisasi), dan Standarize (standarisasi). Di Eropa dikenal 5C, yaitu Clearcut (singkirkan), Configure (susun/tata), Clearand Check (bersihkan dan periksa ulang), Conform (pastikan pada tempatnya), dan Custom and Practice (biaskan dan praktekkan).
5)      Mengenai pemborosan (muda) ada 7 (tujuh) hal yang harus diperhatikan, yaitu produksi yang berlebihan, pemborosan persediaan, pemborosan pengerjaan berulang-ulang, pemborosan gerak kerja, pemborosan pemrosesan, pemborosan karena waktu tunggu dan penundaan, pemborosan transfortasi. Keadaan seperti ini disebut mudamuramuri (boros – timpang – terpaksa).
6)      Bangun gemba didasarkan pada usaha-usaha organisasi pembelajaran (learning organization) terus menerus, bertanyaterus menerus mengapa terjadi kesalahan sampai ditemukan jawabannya, kebijakan kelompok selalu lebih baik dari perorangan, peluang kaizen tidak ada batasnya.
7)      Sistem saran dan gugus kendali mutu diperlukan agar membuat pekerjaan lebih mudah dilaksanakan, menyingkirkan hal-hal yang menjemukan/tidak perlu, menciptakan suasana nyamana, aman, produktif, meningkatkan kualitas, menghemat waktu dan biaya.
8)      Perlu pula dibangun disiplin pribadi melalui sistem reward and punishment yang tepat, keteladanan, kerjasama, keterlibatan konsumen, dan langkah-langkah kesejahteraan lainnya.
9)      Diperlukan pula “manajemen visual” di gemba agar semuanya nyata, terutama hubungan sistemik antara 5 M nya (man, money, material, machine dan method), bagaimana 5R diragakan, meragakan standar dan target sehingga semuanya jelas dan nyata.
10)  Peran supervisor (penyelia), agar semua kegiatan pemeliharaan, perbaikan dan kinerja karyawan dapat berjalan dengan baik.

14 November 2011

Menulis Naskah Drama

“Kita semua adalah makhluk kreatif, dan kreativitas adalah seperti otot yang akan menguat jika kita terus melatihnya.” (Indra Suherjanto).

A. Proses Kreatif
Menulis naskah drama merupakan kegiatan proses kreatif. Kreativitas menyangkut tahapan pemikiran imajinatif: merasakan, menghayati, menghayalkan, dan menemukan kebenaran. Untuk mendalami proses perjalanan melihat, mendalami, dan mewujud tersebut perlu fase-fase proses dengan pola:
1. Merasakan
Merasakan adalah bagian terpenting dari panca indera manusia. Segala sensasi dalam diri manusia selalu dengan fase merasakan. Merasakan diartikan sudah melewati proses melihat, mendengar, dan menyerap.
2. Menghayati
Menghayati diartikan mendalami atau merasakan betul-betul temuan-temuan yang telah dilakukan pada fase merasakan. Indikator menghayati adalah sampai pada kesadaran pribadi terhadap sensasi yang diperolehnya.
3. Menghayalkan
Menghayalkan adalah fase memunculkan kembali apa yang telah dirasakan, apa yang dihayati dalam wujud khayalan dengan harapan memperoleh hayalan-hayalan lain yang baru.
4. Mengejawantahkan
Mengejawantahkan adalah fase mewujud dari tiga proses sebelumnya. Fase ini perlu menggunakan filter estetik agar curahan-curahan hasil fase sebelumnya lebih bernilai.
5. Memberi Bentuk
Memberi bentuk adalah fase penguatan pengejawantahan dengan proses alamiah, mengalir, dengan menggunakan simbol-simbol dan metafora sehingga keinginan dan angan-angan dapat menjadi sebuah karya.

B. Menciptakan Konflik
Kreatifitas pengarang dalam menulis naskah dapat dilihat dari kemampuan pengarang menciptakan konflik dengan surprise atau kejutan-kejutan, menjalin konflik-konflik tersebut, dan memberikan empati dalam penyelesaian konflik. Konflik biasanya dibangun oleh pertentangan tokoh. Pertentangan karakter, pertentangan visi tokoh, pertetangan pandangan dan ideologi tokoh, lingkingan, nilai-nilai dan sebagainya. Plot atau alur drama ada tiga, yaitu:
1. Sirkuler (cerita berkisar pada satu peristiwa saja),
2. Linear (cerita bergerak secara berurutan dari A-Z),
3. Episodic (jalinan cerita itu terpisah/ terpotong-potong dan kemudian bertemu pada akhir cerita).

C. Menciptakan Tokoh
Kehadiran tokoh/ pelaku dalam sebuah drama menjadi penting. Tokoh atau pelaku akan mejadi penentu gerak alur cerita (protagonis, antagonis, tritagonis). Tokoh sangat berperan dalam menjelaskan ide atau inti cerita yang dibangun. Kehadiran beberapa tokoh pendukung juga memberi kesan tersendiri dari sebuah naskah drama. Tokoh berperan penting dalam membangun konflik naskah. Bisa jadi tokoh tidak menyelesaikan masalah tersebut. Namun, kekuatan sebuah naskah drama adalah kuatnya karakter yang dibangun oleh penulis dalam mendeskripkan seorang tokoh agar sutradara paham betul membentuk karakter tersebut.

D. Menciptakan Dialog
Apalah arti hadir seorang tokoh tampa sebilah kata. Itulah hal utama yang perlu diperhatikan dalam menampilkan dialog. Dialog yang dibawakan tokoh/ pelaku merupakan salah satu aspek esensial yang ada dalam naskah drama. Bila bentuk dialog disertai dengan lakuan akan lebih memperjelas maknanya. Muatan emosi, konsep, dan perasaan tokoh disampaikan melalui dialog.

E. Menciptakan Simbol
Naskah drama sebagai karya sastra merupakan proses kreatif individu pengarang yang berbicara tentang dirinya yang disajikan secara tidak langsung atau dengan menggunakan simbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi.

F. Menciptakan Naskah Berbobot
1.    Menampilkan gagasan baru melalui pemikiran imajinatif.
2.    Memiliki konflik dengan surprise (kejutan-kejutan), kaya suspense (ketegangan) sehingga memikat untuk dibaca atau dipentaskan.
3.    Menghadirkan tokoh sebagai penentu gerak alur cerita.
4.    Memiliki dialog yang bermuatan emosi, konsep, dan perasaan tokoh disertai dengan lakuan.
5.    Menggunakan simbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi.
6.    Menampilkan problem kehidupan manusia, mengandung aspek moral, dan mengandung nilai-nilai pendidikan.

Selamat Mencoba….

Autisme dan Gangguan Perkembangan

Istilah gangguan perkembangan meluas (PDDs) mengacu pada kumpulan tentang kondisi perkembangan yang menyebabkan tertundanya atau terganggunya kemampuan komunikasi, bersosial, perilaku, dan keterampilan kognitif dalam hal ini kemampuan belajar. Karena autisme sangat menonjol pada termin PDDs, juga dikenal sebagai gangguan spektrum autistik (ASDs).

Kondisi gangguan perkembangan yang meluas termasuk Sindrom Asperger yakni gangguan neurobiologis dan dua kondisi lainnya, yaitu gangguan disintegratif masa kanak-kanak dan sindrom Rett. Gangguan ini biasanya didiagnosis selama masa bayi, masa balita, atau anak usia dini.

Tanda dan Gejala

Tanda-tanda gangguan spektrum autisme biasanya dikenali sebelum anak berusia 3 tahun. Namun, gejala-gejala yang muncul dapat berada antara kondisi paling kentara hingga yang paling halus dan nampak terlihat sebagai aspek perkembangan anak yang normal. Karena hal tersebut maka identifikasi gangguan spektrum autis bisa memerlukan waktu lama hingga bertahun-tahun. Bahkan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan dokter anak untuk mencari tanda-tanda awal yang menunjukkan kemungkinan autisme pada setiap kunjungan dan tes autisme pada usia anak 18 bulan dan 24 bulan, juga waktu-waktu lain jika diperlukan.

Tanda-tanda awal dapat termasuk:
  • Masalah interaksi ketika bermain atau berhubungan dengan orang lain,
  • Menghindari kontak mata, tidak melihat orang lain
  • Tidak menunjuk ke objek untuk memberikan fokus
  • Gerakan yang tidak biasa, seperti mengepakkan tangan, berputar, atau menekan
  • Delay waktu dalam tahap perkembangan atau hilangnya tonggak tahap perkembangan yang telah dicapai
  • Bermain dengan mainan yang sama dengan cara yang aneh atau berulang-ulang
  • Tidak menggunakan atau memahami bahasa
  • Tidak mengeksplorasi lingkungan dengan rasa ingin tahu atau ketertarikan.

Anak-anak yang menunjukkan pola perilaku tersebut harus dievaluasi oleh dokter. Tidak ada tes darah atau tes otak (seperti MRI) yang dapat mendiagnosa gangguan spektrum autisme, meskipun tes tersebut mampu memeriksa kondisi lain dari gejalanya.

Seorang anak yang diamati mendapat gangguan spektrum autistik harus dievaluasi oleh dokter ahli, seperti ahli saraf anak, perkembangan anak, psikiater anak, atau psikolog anak. Kuesioner orangtua, penilaian pendidikan dan kognitif, penilaian bahasa, atau penilaian bermain dan perilaku dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis autisme.

Penyebab Autisme

Penyebab autisme belum dapat dijelaskan dengan baik. Para ilmuwan yakin hal ini dikarenakan masalah kompleks pada neurobiologis (otak biologi), karena pengaruh genetika seperti kondisi permasalahan pada kromosom yang diwariskan kepada anak.

Beberapa penelitian mendapati bahwa autisme mungkin berasal dari sejumlah penyebab, misalnya alergi makanan, ragi yang berlebihan dalam saluran pencernaan, dan sebaran lingkungan yang tercemar racun. Namun, teori ini tidak terbukti secara ilmiah.

Sebagian besar penelitian ilmiah tidak menemukan hubungan antara vaksin - bahan-bahan yang digunakan - dan autisme itu sendiri. Penelitian pada tahun 1998 yang mengatakan hal tersebut sejak itu ditarik oleh jurnal kedokteran karena melalui tahap penelitian yang cacat.

Penting untuk diingat bahwa autisme bukan disebabkan oleh cara asuh anak atau pengalaman yang buruk. Bagaimanapun sikap positif dan menerima autisme untuk didampingi adalah lebih baik daripada berprasangka buruk terhadap sebab-sebabnya,

Mengobati Gangguan Spektrum Autis

Tidak ada obat untuk autisme, intervensi dini dan terapi atau tritmen dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan untuk mencapai potensi terbaik mereka. Tidak ada obat dapat menyembuhkan Gangguan Perkembangan yang meluas ini, tetapi kadang-kadang obat-obatan digunakan untuk mengobati gejala-gejala tertentu, seperti agresi terhadap orang lain atau diri sendiri, masalah kekurangan perhatian, perilaku obsesif-kompulsif, dan perubahan suasana hati.

Program yang disesuaikan secara khusus individual dapat mencakup modifikasi perilaku, dan intervensi pendidikan dapat membantu membentuk perilaku anak serta meningkatkan kemampuan berbicara dan komunikasi.

Terapi harus individual karena gangguan yang dialami setiap anak berbeda dan memerlukan pemenuhan kebutuhan khusus, gangguan-gangguan spektrum autisme (ASDs) dapat berkisar dari yang ringan sampai berat. Beberapa anak dapat melakukannya dengan baik di kelas kecil dengan perhatian penuh. Juga bisa dilakukan di kelas biasa dengan dukungan yang baik.

Tujuan pengobatan dan tritmen adalah agar anak-anak dengan gangguan perkembangan yang dapat meluas (PDDs) ke satu titik di mana anak-anak dapat mengkuti dan masuk ke kelas biasa, meskipun mereka membutuhkan program-program khusus dan layanan dukungan, termasuk terapi bahasa dan berbicara.

Diet gluten (protein pada roti) dan kasein (protein pada susu) dilaporkan menunjukkan beberapa hasil yang positif dalam membantu beberapa anak autisme, meskipun penelitian lebih lanjut perlu dilakukan. Vitamin dan obat herbal lainnya belum terbukti secara ilmiah, meskipun mungkin memiliki pengaruh bernilai untuk beberapa anak-anak.

Sebelum memulainya keluarga sebaiknya berkonsultasi dan berdiskusi dengan dokter atau psikolog tentang untung ruginya atau resiko menggunakan hal ini atau perawatan dengan metode yang lainnya.

Membantu Anak Autis

Setelah mengetahui bahwa anak mungkin memiliki autisme, penting untuk segera mencarikan bantuan. Bahkan sebelum diagnosis formal dibuat, anak dapat mulai intervensi awal untuk mengatasi kemampuan bahasa dan perkembangan yang tertunda lainnya. Dan konsultasikan dimana anak autis atau difabel bisa mendapatkan layanan bantuan, baik dari swasta ataupun pemerintah di tempat anda berada.

Karena kebutuhan anak-anak dengan gangguan spektrum autisme berbeda-beda, setiap program pendidikan harus disesuaikan dengan masing-masing anak. Anda harus dapat mengatur rencana pendidikan individual bagi mereka di tempat domisili anda berada atau pada sekolah-sekolah setempat. Sebuah rencana pendidikan individual harus menggabungkan kemampuan sosial dan komunikasi dan sangat terstruktur. Kemampuan berbahasa penting diintervensi dan dimaksimalkan, seperti penggunaan modifikasi perilaku dan sikap serta pemeberian penghargaan untuk mencoba menghentikan perilaku yang bermasalah juga untuk mendorong semua jenis kemampuan berkomunikasi.

Pada masalah perkembangan anak, berbicaralah dengan dokter tentang cara untuk menemukan sumber daya lokal untuk pelayanan kebutuhan anak.

Jika anak sudah berada di sekolah, berbicaralah dengan guru untuk mengetahui manfaat dan teknik modifikasi perilaku yang digunakan dalam kelas dan mencoba menggunakannya di rumah secukupnya. Dengan begitu, anak akan mendapatkan perlakuan dan dukungan yang konsisten di rumah maupun di sekolah.

[Demikian ide tulisan ini dari Mary L. Gavin, MD dalam http://www.bintangbangsaku.com/content/autisme-dan-gangguan-perkembangan]