03 Desember 2024

BUAH BIBIR PRAMUKA

Teman saya bilang, bulan puasa jangan banyak bergunjing, perbanyak saja ibadah. Tapi, dianya sendiri hobinya tidur.  Setiap kali bangun dan ketemu saya, dia malah ngajak bergunjing terkait ekskul pramuka yang dibikin heboh oleh Mendikbudristek dan Kwarda Jabar. "Menggunjingkan sesuatu yang akan mencerdaskan bangsa mah tidak apa-apa," dalihnya.

Akhirnya, saya terprovokasi juga untuk mengomentari isu yang sedang hangat ini. Bagi pembaca yang masih gelap duduk perkara isu kepramukaan ini, silakan baca-baca dulu siaran pers dari Kemendikbudristek, siaran pers dari Kwarnas, juga siaran pers dari Kwarda Jabar. Baca di mana? Googling aja.

Komentar saya sih sama persis dengan komentar teman saya. Saya tidak terpancing, apalagi terprovokasi untuk membela atau menyalahkan salah satu pihak, entah itu kubu Mas Menteri atau kubu Bunda Atalia. Pernyataan saya tegas setegas sikap teman saya yang sedari SD sudah cinta sama kegiatan kepramukaan.

Saya sih yakin, kebijakan Mas Menteri itu didasarkan atas rasa cintanya kepada gerakan pramuka. Pun sikap Bunda Atalia yang menolak kebijakan Mas Menteri itu atas dasar kecintaannya pada gerakan pramuka. Maka, komentar saya ini juga ya dasarnya karena cinta. Lalu, kalau memang sama-sama cinta, mengapa harus berantem?

Nah, komentar saya sederhana saja, sebagaimana komentar teman saya itu. Seekor kambing pasti lahir dari induk kambing, sapi lahir dari induk sapi. Tidak mungkin Seekor gajah dilahirkan oleh seekor tupai. Kalau pun tupai membantu proses lahiran seekor gajah, mungkin si tupai hanya sebatas bidan.

Jadi, intinya apa? Pramuka itu lahir dari seorang pramuka juga. Hanya biang pramuka yang mampu menumbuhkan tunas-tunas pramuka. Tahukah kamu apakah pramuka itu? Pramuka itu, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang yang tak patuh pada Tuhannya takkan mungkin mampu melahirkan pramuka. Pramuka itu, cinta alam dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Jangan berharap seorang yang temperamental, gemar merundung, dan tak acuh terhadap kelestarian alam sekitar mampu melahirkan generasi pramuka.

Bagaimana? Perlu saya lanjutkan sampai dasa darma poin kesepuluh? Saya kira, para pembaca yang budiman sangat mampu untuk melanjutkannya sendiri. Saya stop saja sampai di sini. Sebelum saya tutup salam, mungkin para pembaca penasaran, siapakah sebenarnya teman saya itu? Biar tidak menduga-duga, takut dugaan pembaca keliru, baiknya saya bocorkan saja. Sebenarnya, teman ngobrol saya yang paling asyik dan paling setia hanya pikiran saya sendiri. Kitu. 

Tetaplah memandu!

Wasalam.

[6 April 2023 M/15 Ramadan 1444 H]

24 Agustus 2023

PENGALAMAN BELAJAR TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI [#2]

(sambungan dari bagian #1)

Pertemuan kedua, saatnya memeriksa hasil pengamatan para siswa. Kalau mengacu pada kurva normal, pasti kebanyakan hasilnya B aja. Hanya sedikit yang hasilnya luarbiasa (luarbiasa bagus dan luar biasa jelek). Mungkin saja kurvanya tidak normal. Kalau melihat wajahnya, banyak yang senyum-senyum. Beberapa siswa terlihat panik. Mungkin lupa mengerjakan tugas misi rahasia. Mari kita tengok.

“Nak, kalian sudah melakukan observasi. Pasti sudah ada hasilnya. Hasilnya sedetail apa? Ya, tergantung seberapa penasaran kalian saat mengobservasi orang rumah. Kalau kurang penasaran, mungkin cukup tengok dapur:  ‘Oh, ibu sedang masak di dapur”. Kalau penasaran betul, pastinya diamati lebih lanjut: ‘Ibu masak apa, sih?’ sambil mendekat ke dapur. Nah, kalau observasinya sudah dilakukan, hasilnya sudah ada, berarti tinggal menyusun laporan.”

“Laporannya seperti apa, Pak?”

“Tergantung kebutuhan dan fokus pengamatannya. Bisa deskriptif, naratif, eksplanatif, bahkan puisi.”

“Wah, iya kah?”

“Kalau misi rahasia, karena fokusnya ke aktivitas orang rumah, kira-kira sajian laporannya seperti apa?”

“Naratif, Pak!”

“Puisi bisa gak, Pak?”

“Silakan saja dicoba, tetapi pasti harus punya ilmu khusus, ilmu puisi. Kalau ingin mudah dan sederhana, boleh berbentuk naratif. Struktur sederhananya pasti minimal ada pembuka, isi, dan penutup. Nah, hasil laporan kalian itu nanti jadi isinya. Sajikan dalam bentuk narasi (cerita). Jadi, minimalnya bakal ada tiga paragraf ya. Paragraf pembuka, paragraf isi, dan paragraf penutup.”

“Pembukanya bagaimana, Pak?”

“Semacam pengantar. Buat pernyataan-pernyataan umum dalam beberapa kalimat.”

“Contohnya, Pak!”

“Hmm... Misal, kamu tulis keluarga secara umum: Setiap orang pasti memiliki keluarga. Tentunya, aktivitas setiap anggota keluarga akan berbeda-beda. Ada yang lebih banyak di rumah, ada yang lebih banyak di luar rumah. Ada yang sibuk, ada juga yang santai. Kali ini, saya mengamati aktivitas salah satu anggota keluarga, yaitu Kakak.”

“Wah, mantap. Gimana, Pak, gimana? Ulangi, Pak!”

“Hehe... Itu hanya contoh. Bisa juga pakai kalimat lain. Misal: Ibu rumah tangga dianggap pekerjaan yang ringan dan paling santai. Benarkah anggapan itu? Mungkin kita kurang peka. Untuk membuktikan hal itu, saya telah melakukan pengamatan secara rahasia pada Mama di rumah. Apa sajakah aktivitas yang dilakukan Mama sejak bangun tidur hingga tidur lagi?”

“Wah, itu lebih mantap sepertinya, Pak!”

“Ya, terserah kalian saja. Kreasikan saja yang kira-kira cocok.”

“Pak, penutupnya bagaimana?”

“Hmm... Kamu bisa beri komentar, kesan secara umum terhadap aktivitas orang rumah. Bisa juga dengan refleksi diri, membandingkan aktivitasnya dengan aktivitasmu, apa yang kamu rasakan? Simpulkan! Apa yang kamu dapatkan?”

“Contohnya, Pak!”

“Hmm... Ya, apa yang kamu dapatkan? Tuliskan saja. Terakhir, beri judul yang sesuai! Silakan dicoba! Kalian tinggal menambahkan paragraf pembuka, penutup, dan judul, ya. 15 menit cukup?”

“30 menit, Pak!”

“Silakan dicoba! Kalau ada yang sudah selesai duluan, saya tengok. Kalau ada hambatan, boleh tanya. Silakan!”

Beberapa menit berjalan. Ada yang tanya ini tanya itu. Ada yang tengok-tengok pekerjaan temannya. Ada juga yang anteng sendiri. Hingga akhirnya ada juga beberapa siswa yang menghampiri.

“Begini, Pak! Coba Bapak periksa!”

“Hmm... Ini penulisan judulnya kapitalkan tiap awal kata, kecuali kata penghubung: Ibuku yang Hebat. Kalau mau dikapitalkan semua juga boleh: IBUKU YANG HEBAT.”

“Siap, Pak!”

“Nih, hati-hati nih penulisan di. Kalau menunjukkan tempat wajib dipisah: di rumah, di dapur, di atas, di dalam, dsb. Nah, kalau menunjukkan aktivitas pasif, gabungkan: diperhatikan, dimakan, dikerjakan, dsb.”

Terkait kaidah penulisan begini, ternyata banyak juga siswa yang masih belepotan. Hal semacam ini mestinya sudah tuntas di tingkat SD. Hmm... Saya coba tengok pekerjaan siswa lainnya.

“Wah, ini kamu mengamati siapa?”

“Mamah.”

“Penyebutannya seragamkan. Ini di judulnya kamu tulis ‘Mamah’, di tengah ditulis ‘Ibu’. Nih, ini juga, nih. Di atas ‘aku’, di bawahnya ‘saya’. Konsisten, ya.”

“Hehe... Siap, Pak!”

“Nih, hati-hati menuliskan jam. Bedakan antara jam dan pukul.”

“Bedanya apa, Pak?”

“Perhatikan: Setiap pagi, ayah berolahraga selama dua jam, dari pukul 6.00 hingga pukul 8.00. Paham? Jadi, ‘jam’ itu untuk menunjukkan durasi. Kalau penunjuk waktu, gunakan ‘pukul’, ya.”

“Siap, paham.”

“Nih, kalimat ini: Selesai mencuci baju, Mamah biasanya menonton tv. Nah, hindari kata’biasanya’. Kata tersebut menandakan bahwa kamu tidak melakukan pengamatan. Kamu hanya mengira-ngira. Hmm...”

“Oh, iya, Pak.”

“Nah, Ini mamahmu bangun pukul berapa? Pukul empat? Terus, ini selesai salat Subuh, Mamah bangunin kamu? Kamu tahu dari mana si mamah bangun pukul empat?”

“Hmm.. nanya, Pak.”

“Ini mah bukan kamu yang mengamati si Mamah. Si Mamah yang mengamati kamu.”

“Hah?”

“Rumusnya: PENGAMATAN itu menimbulkan KEPEKAAN yang akhirnya memunculkan AKSI. Si Mamah mengamati kamu: Oh, masih tidur. Peka: Pasti belum salat. Aksi: Bangunin kamu. Terus si Mamah peka lagi: Pasti lapar baru bangun. Si Mamah langsung aksi memasak di dapur.”

Sengaja penjelasan itu saya gunakan volume kencang biar terdengar sekelas. Wajah si siswa tenggelam. Matanya seperti tidak nyaman.

“Nah, lain kali, amati dengan betul. Bisa saja tugas ini kalian anggap ringan, asal jadi. Salin pekerjaan teman, misalnya. Tapi, terus terang: pengalaman selalu menjadi guru terbaik. Saya tidak bisa memberi pengalaman itu di kelas. Kalian yang bisa mengalami sendiri prosesnya di rumah masing-masing. Itu pengalaman yang mahal. Kepekaan inderawi diasah. Bila mata, hidung, telinga, lidah, kulit sudah peka, hatimu akan lebih peka. Nantinya, indera ketujuh bisa ikut peka: intuisi.”

 

(bersambung...)

PENGALAMAN BELAJAR TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI [#1]

 Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya, terserah Anda!

Bila ada yang tahu kutipan iklan tersebut, Anda mungkin seumuran dengan saya. Kutipan itu saya terapkan pada kegiatan pembelajaran di awal tahun pembelajaran baru, di kelas baru, di siswa baru.

"Belajar apa kita hari ini?"

Pertanyaan itu membuat kebanyakan siswa bingung tak bisa menjawab.

"Kalau melihat dari buku paket, sekarang kita belajar Teks Laporan Hasil Observasi, Pak," ucap salah seorang siswa rajin.

"Mantap! Kamu siswa cerdas. Pastinya sudah membaca buku paket terlebih dahulu di rumah," balasku padanya dengan sedikit bangga.

"Enggak, Pak. Saya baru buka buku paket barusan, Pak," jawabnya polos, tetapi dengan wajah bersemangat.

"Baiklah, laporan hasil observasi. Ini materi yang keren. Bisa jadi bekal untuk sumber ilmu lainnya. Mari kita pelajari bersama-sama dengan penuh perhatian!" seruku dengan nada memotivasi.

"Siap, Pak!" jawab para siswa serempak.

"Nah, ada tiga kata nih: laporan, hasil, dan observasi. Mana nih yang perlu kita bahas duluan?"

Jawaban siswa sangat variatif berikut alasan-alasannya. Paling banyak jawabannya ialah laporan.

"Begini, sebetulnya yang paling penting kita pelajari lebih dulu ialah observasi. Nah, dari observasi itulah kita akan memperoleh hasil, dan hasil itulah yang akan menjadi acuan dalam menyusun laporan."

Hampir seluruh siswa mengucap "ooo" dan sebelum mulut mereka rapat kembali, saya ajukan pertanyaan sederhana, "Apa yang ada di benak kalian saat mendengar kata 'observasi'?"

Sejenak hening. Hingga beberapa saat kembali ramai dengan beragam jawaban.

"Penelitian, Pak!"

"Wah, serius amat penelitian, hehe..."

"Analisis, Pak!"

"Owh, sepertinya observasi itu sulit, ya?" timpalku santai.

"Mengklasifikasi, Pak!"

"Wah, keren amat bahasanya! Hehe... Kita sederhanakan saja. Intinya, observasi itu pengamatan. Ya, kalau mengobservasi ya kegiatannya ya mengamati. Sesederhana itu."

Hampir seluruh siswa mengucap "ooo" dan sebelum mulut mereka rapat kembali, saya ajukan beberapa pertanyaan enteng, "Mengapa kita harus mengobservasi? Apa yang harus kita observasi? Bagaimana cara kita mengobservasi? Ayo dijawab!"

Sejenak hening. Hingga beberapa saat kembali ramai dengan beragam jawaban.

"Kucing!"

"Benda, Pak!"

"Fenomena alam, Pak!"

"Biar kita paham, Pak!"

"Pake teropong, Pak!"

"Pake ilmu atuh, Pak!"

Dan aneka jawaban asbun lainnya.

"Nah, biasanya kalau kita mengamati sesuatu itu karena punya motivasi yang kuat. Misal, kamu terpesona sama salah satu siswi di kelas. Kamu pasti melakukan pengamatan yang lebih mendetail, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, sampai hafal minyak wanginya, lokasi rumahnya, tahu kebiasaannya, makanan favoritnya, dst."

"Eaa... eaa... eaa...."

"Nah, begitulah. Modal dasarnya kudu punya motivasi intrinsik untuk mengamati. Mengamati apa? Alam semesta. Biar apa? Biar kenal sama penciptanya. Caranya? Gunakan pancaindera, bila mampu ya sama indera ketujuh (hatimu). Biar apa? Biar lebih peka. Peka pada apa? Pada pertanda alam semesta."

"Uwoww... amazing, Pak!"

"Tapi kok di buku paket gak ada penjelasan itu?" Tanya salah seorang siswi.

"Makanya, saya hadir bukan sebagai juru bicara buku paket, tetapi untuk melengkapi keterbatasan buku paket. Biar apa? Biar ilmu yang kamu dapat itu utuh," jawabku santai.

"Mantap, Pak!"

"Nih, ingat juga yang ini. Ada yang namanya fokus pengamatan. Biar apa? Biar hasil pengamatannya gak ngeblur."

"Maksudnya bagaimana, Pak?"

"Nih, contoh kecil: semut. Semut kan kecil, kan? Hehe... misal ada dua orang yang mengamati semut. Yang satu fokus pengamatannya ke struktur tubuh semut. Yang satunya lagi fokus pengamatannya ke interaksi sosial semut. Pasti akan berbeda proses pengamatan yang dilakukan, dan hasilnya pun jelas akan berbeda. Kalau gak difokusin, pasti bakal bingung: apanya yang harus diamati? Kitu."

Hampir seluruh siswa mengucap "ooo" dan sebelum mulut mereka rapat kembali, saya sambung, "Nah, nanti coba kalian laksanakan misi rahasia di rumah masing-masing. Anggap sebagai latihan. Misinya: mengamati aktivitas orang rumah, mulai ia bangun hingga tidur lagi. Kalian tentukan satu saja yang paling menarik untuk diamati. Bisa ayah, bisa ibu, boleh kakak, boleh adik. Terserah. Yang penting, kerahkan semua indera yang kamu punya untuk pengamatan! Catat hasilnya. Ingat, ini misi rahasia. Jangan sampai ketahuan kalau kalian sedang mengamati. Bila perlu, membaur saja. Kalau sudah selesai, ucapkan terima kasih padanya."

"Wah, seru kayaknya, Pak!"

"Nah, sekarang untuk latihan misi rahasia, coba kalian amati satu orang yang ada di kelas ini. Terserah mau siapa saja, yang penting dia jangan sampai tahu kalau kamu sedang mengamati dia. Biar hasil pengamatannya gak ngeblur, apa fokus pengamatannya? Temukan ciri khas orang yang kamu amati! Mungkin fisiknya, sifatnya, kebiasaannya, atau yang lainnya. Catat hasilnya sedetail mungkin. Siap?"

"Siap, Pak!" Jawab mereka serempak.

(bersambung ke bagian #2)

06 Februari 2018

IKHLAS

Aku masih ingat betul Senin kemarin itu adalah pertemuan terakhirku mengajar di kelas itu. Senin depan, mereka sudah harus menghadapi ujian akhir semester. Masih sangat jelas hari itu aku memberikan tagihan akhir berupa tugas menulis teks ulasan film yang sudah pernah mereka tonton.
“Anak-anak, belajar bahasa itu di mana-mana sama saja, hanya belajar mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kalian sudah pernah mempelajari contoh-contoh teks ulasan film, presentasi mengulas film yang sudah kalian tonton secara berkelompok di depan kelas. Sekarang saatnya kalian belajar menulis. Silakan kalian buat secara tertulis di kertas selembar teks ulasan dari film yang sudah pernah kalian tonton yang menurut kalian paling menarik! Ingat, menulis itu berbeda dengan mengarang. Mengarang itu mengada-ada, pura-pura mampu,  sedangkan menulis mah apa adanya, semampunya. Dan, menulis tingkat SMA itu berbeda dengan tingkat SD. Kalau menulis tingkat SD itu menyalin tulisan, sedangkan tingkat SMA mah menuangkan ide dan gagasan. Jadi, kalian tidak saya perkenankan menyalin teks ulasan dari mbah gugel. Tulis saja sebisanya, semampunya. Kalau ada kesulitan, silakan tanyakan. Jelas, ya. Ada pertanyaan?”
“Belum ada, Pak!”
“Banyak, di soal UKK!”
“Hahaha... Bapak mah bisa aja.”
“Ingat ya, menulis, bukan mengarang ataupun menyalin! Silakan.”

* * *

Lembaran kertas tugas siswa dari tiga kelas yang kuajar kini menumpuk di depan mataku. Malas aku mengoreksinya. Sebenarnya aku bukan tipe guru pemalas, sungguh. Tapi nyatanya kali ini aku benar-benar malas. Meliriknya saja kini aku enggan. Ingin kubakar saja kertas-kertas itu biar mampus. Muak aku dengan kertas. Betapa tidak, baru beberapa kertas kubaca, sudah tercium bau gugel. Kucoba baca kertas-kertas lainnya secara random, hampir semuanya rasa gugel, terutama di kelas yang satu itu. Padahal sudah kuingatkan, tulis sebisanya, jangan menyalin.
Apa susahnya sih mengulas film? Menceritakan kembali alur film dengan bahasa sendiri, kemudian menilai kelemahan dan kelebihan film dengan pemahaman sendiri, apa sulitnya? Kalau merasa sulit kan bisa bertanya ke gurunya. Apalagi yang sulit?
Ah, jelas sudah. Intinya, mereka semua tidak ada keinginan untuk belajar. Berangkat sekolah hanya untuk status pelajar. Ngakunya saja pelajar, tetapi ketika disuruh belajar malah ogah-ogahan. Maunya hanya santai-santai, kumpul becanda haha hihi dengan teman-teman, bahkan ada yang cuma numpang pacaran. Dasar pelajar palsu.
Anak sekolah zaman sekarang yang dikejar hanya angka bagus di rapor, tak peduli dengan cara etis ataupun tidak. Tak pernah saya lupakan bagaimana hebatnya aksi mereka ketika mengerjakan soal UTS kemarin, menyontek berjamaah. Sebal aku mengenangnya. Harusnya yang mereka kejar itu adalah nilai, nilai keuletan, nilai kerja keras, nilai kepercayaan diri, nilai pantang menyerah, nilai kejujuran, bukannya angka. Sudahlah, biar kali ini mereka semua kuberi angka kecil saja di rapor, biar tau rasa. Titik.

* * *

Pukul dua dini hari. Aku masih duduk melamun di meja kerja bersama kertas-kertas tugas siswa yang belum juga kubakar. Mataku sudah spaneng 5 watt, tapi kekesalan masih menyala terang di hati dan kepala. Tiba-tiba remang-remang terbayang seraut wajah penuh keteduhan, dengan senyumnya yang khas. Dia adalah guruku. Guru skripsiku waktu di kampus dulu, sudah sangat lama sekali. Tatapan matanya yang lembut mampu menghapus lelahku setelah berdesak-desakan di kereta antara Bogor-Cikini, berpanas-panasan dalam kemacetan bus Rawamangun. Senyum khasnya itu, mampu memompa semangatku untuk segera menyelesaikan skripsi dengan literatur yang memadai dan kualitas analisis yang mendalam. Selama kurang lebih tiga setengah tahun kuliah, rasanya ketika menyusun skripsi itulah aku benar-benar merasa belajar. Dialah dosen satu-satunya yang benar-benar menjadi guruku.
Kuingat saat ia mengajak kami menyanyi pada acara wisuda: Kasih ibu kepada beta / Tak terhingga sepanjang masa // Hanya memberi, tak harap kembali / Bagai sang surya menyinari dunia //. Kemudian ia berpesan, “Begitulah seharusnya seorang guru, ikhlas seperti kasih ibu, seperti mentari, hanya memberi, tak harap kembali.”
Astagfirullah. Selama ini aku lupa. Aku terlalu banyak mengharap. Mengharap pemikiran siswa harus sama denganku. Mengharap kemampuan siswa harus sama denganku. Jelas-jelas pemikiran anak remaja jauh berbeda dengan orang dewasa. Jelas-jelas kemampuan anak SMA tidaklah sama dengan sarjana. Aku terlalu banyak mengharap, lupa memberi. Bukannya memberi pembelajaran yang menyenangkan, malah memberikan kekesalan dan kemarahan. Astagfirullah. Aku lupa memberi. Aku harus introspeksi. Mungkin metode mengajarku salah, mungkin kurang media pembelajaran, mungkin gestur dan mimik mukaku salah, mungkin memang banyak kurang dan salah. Aku harus banyak memberi, jangan banyak berharap. Maafkan gurumu yang lalai ini, Nak!
Di sepertiga malam terakhir itu, aku bergegas merapikan lembaran kertas kerja siswa yang berserakan. Kubawa kertas-kertas itu ke luar rumah. Udara di luar terasa dingin sekali. Kupandangi langit, ternyata sepi dari bintang-bintang. Biarlah langit kelam ini menjadi saksi. Dengan mengucap basmalah, kubakar kertas-kertas itu dengan gelora semangat dalam dada, “Nak, kita mulai dari nol, ya!”

Jonggol, 13/06/2017

MUNAFIK

#1
Sungguh beruntung Pak Untung ini, sekarang sudah resmi jadi PNS golongan III-a. Sebagai seorang PNS, Pak Untung tak perlu khawatir lagi untuk memberi nafkah anak-istrinya dan keluarga besar istrinya, juga membayar sewa kontrakan setiap bulannya. Selain mengajar mapel Sejarah di SMA negeri dekat rumahnya, Pak Untung ini sekarang dipercaya juga sebagai bendahara BOS. Sebagai bendahara BOS, tentunya Pak Untung memegang banyak uang, tapi uang panas. Keberuntungan Pak Untung yang lain saat ini adalah dipercaya sebagai Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru.

Suatu sore, datanglah Pak Komar bertamu ke rumah Pak Untung. Maksud dan tujuan kedatangan Pak Komar yaitu ingin mendaftarkan anaknya ke SMA tempat Pak Untung mengajar. Pak Komar ini adalah seorang pegawai desa yang cukup terpandang di daerahnya.

“NEM anak saya, Marko, memang tidak terlalu besar. Akan tetapi, Marko itu anak baik. insyaAllah tidak akan melakukan hal-hal yang merepotkan Ibu/Bapak guru di sekolah. Ini sedikit ala kadarnya untuk Pak Untung,” ucap Pak Komar sambil menyodorkan amplop putih dengan garis pinggir merah-biru.
“Saya belum bisa menjamin anak Bapak diterima. Daftarkan saja sesuai prosedur, mudah-mudahan bisa masuk. Dan maaf, saya tidak bisa menerima ini.”
“Kenapa? Apa tidak cukup? Nanti saya tambah. Berapa?
“Maaf, saya tidak bisa menerima sogokan.”
“Sok suci! Saya tahu Pak Untung diterima PNS juga hasil sogokan. Zaman sekarang mana mungkin bisa jadi PNS kalau tanpa begituan. Sudah terima saja ini, tidak usah munafik!”
“Munafik?”

#2
Sudah sangat lama Pak Untung ingin memiliki rumah sendiri agar bisa terbebas dari sewa kontrakan rumah. Sudah hampir setahun sejak menerima gaji pertamanya sebagai PNS, Pak Untung rajin menabung dan gemar sedekah agar dapat membeli tanah dan membangun rumah sendiri.

Untung sekali malam itu sehabis pulang dari salat berjamaah Isya di masjid, Pak Komar mampir ke rumah Pak Untung untuk sekadar ngopi-ngopi dan ngobrol ngaler-ngidul. Pak Komar ini selain sebagai seorang pegawai desa juga memiliki profesi sampingan sebagai calo tanah dan rumah. Pak Komar menawarkan, ada salah seorang warga yang mau menjual rumahnya dengan cepat karena terlilit utang-piutang dengan lintah darat.

“Luas tanahnya 200 m2, bangunan 90 m2, cuma minta tujuh puluh juta. Lokasi strategis, Pak Untung. Dijamin untung. Ayo sikat, Pak!”
“Saya minat, tetapi saya tidak punya uang sebanyak itu, Pak Komar.”
“Bapak ‘kan pegang uang BOS.”
“Itu bukan uang saya, Pak.”
“Hmm... Bapak ‘kan sudah PNS. Pinjam saja ke bank. Bisa ‘kan?
“Ya, bisa saja. Tapi saya tidak mau kena utang bank, Pak Komar. Riba.’”
“Sudah lumrah PNS menyekolahkan SK-nya ke bank. Sudah biasa itu. Coba lihat Pak Hasan sekarang rumahnya sudah megah. Pak Basri sudah punya mobil. Tanpa pinjam uang ke bank, PNS tidak akan punya apa-apa. Itu namanya fasilitas. Jangan munafik, Pak Untung.”
“Munafik?”

#3
Istrinya Pak Untung, siapa namanya? Ada yang bisa menebak? Ya, Bu Untung. Bu Untung ini memiliki paras yang cantik. Sejak Pak Untung dipenjara di Lapas Sukamiskin karena terlilit kasus dana BOS di sekolahnya, Bu Untung harus berjuang seorang diri menanggung beban menjadi tulang punggung untuk menghidupi anak-anaknya dan juga keluarga besarnya. Kini setiap pagi Bu Untung bekerja sebagai buruh cuci harian di rumah Pak Komar.

Pak Komar ini selain sebagai seorang pegawai desa dan calo tanah juga dikenal sebagai seorang duda usia 41 tahun yang selalu merasa keren dan ganteng. Suatu pagi yang tidak terlalu cerah, ketika Bu Untung sedang bekerja sebagai buruh cuci, ketika Pak Komar selesai sarapan, dan ketika Marko anak semata wayang Pak Komar berangkat sekolah, rupanya Pak Komar tergoda oleh kemolekan Bu Untung. Mata genitnya mulai nakal memindai tubuh Bu Untung tanpa henti, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pak Komar mulai mendekati Bu Untung. Tangannya mulai...

“Jangan, Pak Komar, jangan!”
“Bu Untung, santai saja, tidak ada siapa-siapa di sini.”
“Tidak! Jangan!”
“Ayolah, saya sudah lama menduda. Dan kaupun pasti kesepian semenjak suamimu mendekam di Sukamiskin. Ayolah, sebentar saja. Sudah sejak lama aku mengagumimu.”
“Aaah... Tidak!”
“Ayolah, kita ini sama-sama membutuhkan. Mumpung sepi.  Jangan munafik!”
Dengan sekuat tenaga Bu Untung menendang salah satu bagian tubuh Pak Komar yang sangat berharga, lalu berkata, “Munafik? Apa itu munafik? Rajin ibadah tapi rajin maksiat, itu munafik! Di keramaian warga sok wibawa tapi di tempat sepi mulai liar seperti babi, itu munafik! Di luar kau seperti orang terhormat, nyatanya manusia bejat! Siapa yang munafik?”
Pak Komar masih mengerang kesakitan. Bu Untung terus saja berceloteh, “Biar orang-orang tahu siapa munafik sebenarnya, biar tahu malu, biar kukatakan pada orang sekampung sebejat apa dirimu sebenarnya!”
Takut menanggung malu, Pak Komar bangkit dan mengambil katana yang menempel di dinding. Dan....

#4
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga amal baiknya diterima di sisi Tuhan. Mohon maaf sedalam-dalamnya karena telah membuat akhir cerita seperti ini. Saya tidak ingin munafik. Tapi sungguh ini di luar dugaan. Bu Untung harus buntung di tangan Pak Komar dan Pa Untung kini hanya bisa mematung di Sukamiskin. Mereka berdua adalah korban kemunafikan zaman. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Jonggol, 28 April 2017

17 Maret 2015

Cintanya Aku

Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa cinta. Hidup ini penuh cinta. Kita hidup karena ada cinta. Kita ada karena Tuhan telah meniupkan cinta kepada Adam dan Hawa. Ada cinta yang memberi kita hidup. Kita punya cinta untuk kita tebarkan kepada setiap makhluk, atau kalaupun tidak ––bagi yang egois–– kita bisa menikmati cinta untuk diri kita sendiri. Ketika cinta hilang pada diri kita, maka tak ada alasan bagi kita untuk tetap hidup.

*  *  *

Tak kusangka kamu melakukannya juga. Kamu memintaku untuk menjadi pacar kamu. Menurutku, tak pantas seseorang dari kaum Hawa berucap hal itu, tapi itu hakmu. Tak bisa kusalahkan juga ucapanmu karena sikapkulah yang mengundang-nya. Aku sadar itu.
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” ucapmu.
“....”
“Tidak dijawab juga tidak apa-apa,” ucapmu lagi, tapi tatapanmu memelas, bibir kamu melengkung menyerupai gunung.
“....” Aku hanya bisa berkata-kata dalam hati. Apakah Tuhan mau mem-berikan cinta yang banyak untukku? Baru seminggu yang lalu ada perempuan lain yang menawarkan cintanya padaku, hari ini kamu. Apakah Tuhan menyuruhku berpoligami? Ah, aku tak sanggup, lagipula hatiku ––tidak cintaku–– cukup mahal.
Kamu masih menyetel wajah itu. Melihatmu aku ingin tertawa. Pikir-pikir, aku harus mulai bicara meskipun agak sulit. Aku kasihan padamu telah lama menunggu gerakan bibirku.
“Maaf, ....”
“Ya....”
“Aku...,” kerongkonganku tersendat. Keningmu mengerut. Aku tidak ingin membuatmu kecewa. Kamu baik dan penuh perhatian. Kamu selalu memberikan rasa hangat pada hampir setiap alur kisahku. Kamu juga cantik.
Ah, tidak bijaksana kalau aku hanya berkata-kata pada hatiku sendiri. Kamu masih menanti gerakan bibirku selanjutnya.
“Jujur, aku juga sayang kamu.”
Aku mulai lancar berkata-kata. Walhasil, gunung di bibirmu hancur dan berubah menjadi perahu dayung.
“Lalu...,” katamu.
“....” Setelah itu aku kembali gugup.
“Aku... untuk menjadi pacarmu, sepertinya aku belum siap....”
“Kenapa...?”
“Aku masih belum memikirkannya... lagipula aku masih sibuk dengan pekerjaan-pekerjaanku. Maaf, aku belum siap.”
“O....” Bibirmu kembali menggunung.
Mungkin tadi aku salah ucap. Aku seperti membukakan pintu lebar-lebar untukmu, tetapi setelah kamu melangkah masuk kututup lagi pintunya keras-keras. Aku jadi sulit. Aku selalu menderita jika melihat bibir seperti itu. Sudah kubilang, hatiku mahal, tetapi cinta ––sayang––ku tidak.


*  *  *

Cinta itu suci
Tulus dan murni
Lahir dari ketulusan hati
Anugerah Ilahi

Cinta adalah pertemuan dua hasrat
Hasrat untuk saling mencintai
Untuk saling mengasihi
Untuk saling menyayangi

Aku tak punya hasrat itu
Untuk kuberikan padamu
Sedang hasratmu menggebu-gebu
Untuk kauberikan padaku

Cinta tiada bisa dipaksa
Aku tak mampu mencintaimu
Hasratku telah tertumpah di lain hati
Maaf, bukan maksudku menyakitimu


*  *  *

“De, bagaimana dengan nasib pertanyaanku beberapa minggu yang lalu?”
“Menunggu jawaban, ya?” katamu.
Kulihat kesulitan di wajahmu yang manis. Ada banyak kata-kata di balik bibir tebalmu yang ingin berontak keluar, tetapi bibirmu masih terkunci dan kuncinya masih bersemayam di hatimu yang sedang bergejolak.
Kita berjalan-jalan di sebuah dataran tinggi. Sengaja aku membawamu ke sini untuk menanyakan nasib cinta ––hati––ku.
Sepertinya kamu kesulitan untuk menjawabnya. Aku jadi kasihan padamu. Kalau kamu tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa, berarti itulah keputusan yang terbaik untukku, juga untukmu. Dalam hidup, aku tidak terlalu banyak menuntut. Aku berusaha untuk selalu menyukuri apa yang ada. Aku setuju lagu Iwan Fals, keinginan adalah sumber penderitaan.
“Ade nggak mau munafik, Ade sayang sama Ed, sayang... banget. Tapi, Ade orangnya suka nggak tegaan kalau melihat teman sendiri menderita. Ade tahu kalau dia juga sayang sama Ed. Kalau kita sampai ‘jadian’, dia pasti sakit hati, tetapi kalau Ade sampai menolak Ed, Ade juga nggak tega. Terus terang, Ade masih terlampau sayang sama Ed. Ade bingung harus bagaimana.”
“....”
“Maaf kalau Ade nggak bisa menjawabnya sekarang....”
Aku sudah cukup bahagia mendengarnya. Tidak perlu lagi kata ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku yakin, ini pasti sudah ketentuan dari Tuhan. Aku haram menolaknya, meskipun ada sedikit tangis dalam hatiku, tangisan bagi nasib cinta ––hati––ku.


*  *  *

Embrio cinta tertanam di hatiku dan hatimu
Rasa kasih dan sayang pun terlahir
Meradang mengembang memenuhi relung-relung hatiku dan hatimu
Inilah anugerah terindah dari Sang Pencipta

Sang sutradara tidak membuat gampang alur cerita
Ada banyak episode sulit yang harus dilalui
Yang menuntut kematangan jiwa dalam bijak
Awal cerita memang agak sulit dimainkan
Namun sabar dalam setia adalah penawar
Gapai bahagia di akhir cerita

Rasa cintaku padamu
Ibarat sebotol anggur yang tersimpan aman
Kian hari anggur ini kian mahal
Akankah kautunggu anggur ini sampai kujadikan mahar?


*  *  * *


Lagu Rindu*)

Udara saudi terasa lagi
Angin semilir tak berair
Aspal panjang tak ada ruang
diduduki si Zuki, pa N’ther, ki Jang, bi Emwe, dan kawan-kawannya yang lain
Mulut mereka melantunkan lagu rindu,
bersahutan,
mengiris telinga ...
Pabrik-pabrik berbaris rapi di tepian
dengan rokok kelabu menatap jemu

*) bosan dengan kemacetan lalu-lintas

Cinta

Cinta bagaikan air
di dalam gelas berbentuk gelas
di dalam teko berbentuk teko
di atas mangkuk berbentuk mangkuk

Cinta bisa menjadi bengis, keji, dan nista
Bila ia bersemayam di hati yang kotor dan busuk
yang diselimuti hawa nafsu
Itulah cinta yang ternoda
Cinta buta

Cinta bisa menjadi kasih dan sayang
Bila ia bersemayam di hati yang bersih dan suci
yang diselimuti nur Ar-Rahman Ar-Rahim
Itulah cinta yang murni
Cinta sejati

Cinta Adalah Anugerah

Seperti halnya anggrek, mawar, dan melati
yang tumbuh di taman lestari
Kuncupnya mengembang merekah megah
Semilir angin menghantarkan baunya ke setiap penciuman
Itulah rasa cintaku yang menjadi-jadi
Jangan dicegah
Jangan difitnah
Anugerah adalah fitrah

14 Maret 2015

MA'RIFATULLOH

UNTUK DIJADIKAN BAHAN RENUNGAN
(Bukan hanya untuk dibaca saja, tetapi dihayati dan disadari apa yang harus kita kerjakan)

Segala puji bagi Alloh seru sekalian alam, yang tiada sekutu bagi-Nya, tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Mahabesar Alloh yang telah menciptakan bumi yang indah dan subur tempat kita hidup mencari makan, bercocok tanam, dan berkampung halaman. Mahabesar Alloh yang telah membentangkan langit lazuardi yang indah laksana atap tempat kita bernaung, berhiaskan bulan dan bintang yang gemerlapan di angkasa raya, dilengkapi pula dengan matahari yang memancarkan cahayanya yang mengandung syarat-syarat kehidupan yang utama bagi makhluk di seluruh alam ini.

Sholawat dan salam sejahtera semoga dilimpahkan selalu kepada junjungan dan kekasih kita, Nabi Besar Muhammad SAW, yang diutus oleh Alloh untuk mengajarkan kepada manusia agar berbudi luhur dan berakhlak mulia, dan semoga dilimpahkan pula bagi para sahabat dan keluarganya yang telah sungguh-sungguh berjuang dalam mengembangkan ajaran Rasul. Di antaranya beliau berkata, “Bahwa kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya dalam hal tingkat kemuliaannya, yaitu Kemampuan Manusia dalam hal ma’rifatulloh (mengenal Alloh), jalan perhiasan termahal dan tidak ada bandingannya di dunia ini, serta menjadi simpanan yang tak ternilai di akhirat kelak.

Potensi ma’rifat kepada Alloh, semata-mata bukan terletak pada bagian anggota badan manusia. Namun, pada hatilah terletak kemampuan ma’rifat kepada Alloh, mendekatkan diri kepada Alloh, bekerja semata-mata karena mengharapkan keridhoan-Nya. Hati pula yang dapat menyingkap akan apa-apa yang ada pada sisi Alloh SWT. “Hati yang kotor berarti mengotori diri sendiri, hati yang bersih dan suci kekasih Robbul Izzati”.

Anggota badan itu tidak lain hanyalah sebagai pesuruh atau alat yang diperintah oleh hati dan dikerjakan sebagai hamba terhadap Tuhannya dan sebagai rakyat terhadap pemimpinnya, bagaikan suatu alat yang dipergunakan oleh tukang sewaktu mengerjakan pekerjaannya, dia sekadar pelaku yang menurut saja akan orang yang melakukannya.

Oleh karena itu, hatilah yang akan dihadapkan ke hadirat Ilahi Robbi untuk mempertanggungjawabkan tindak perbuatan anggota tubuh yang lain. Maka sangat berbahagialah orang yang dapat membersihkan hatinya dari segala perbuatan yang dimurkai Alloh, sebab nantinya akan dicintai dan diampuni dosanya oleh Alloh. Begitupula sebaliknya, amat celakalah orang yang telah mengotori hatinya dengan menjauhi perintah Alloh, sebab nantinya akan dicerca dan dimurkai Alloh di kala semua telah menghadap-Nya.

Sesungguhnya, hati itulah yang pada hakikatnya sangat patuh kepada Alloh, dan ibadah yang dikerjakan oleh anggota badan itu merupakan manifestasi belaka dari apa yang menyinari lubuk hati kita dan merupakan sinar yang tersimpan. Kalau manusia berbuat durhaka, maka sesungguhnya hatinya yang mendurhakai dirinya sendiri, sedangkan perbuatan yang dikerjakan oleh anggota badan itu merupakan proyeksi dari sinar kegelapan yang tersimpan dalam hatinya.

Bila manusia telah dapat menganalisis hatinya, maka berarti ia sudah mengenali dirinya dan ia pun akan mengenali siapa Tuhannya. Begitupun apabila manusia tidak dapat mengenali hatinya, maka ia membodohi dirinya sendiri dan berakibat jahil terhadap Tuhannya. Jikalau hati telah terjerumus ke dalam genggaman setan, maka akan hina dan nista. Namun, hati pulalah yang dapat mengangkat ke derajat yang tinggi masuk ke dalam golongan malaikat.

Maka barangsiapa yang tidak mau mengerti keadaan hatinya untuk tetap berada di alam nasut, maka Alloh berfirman, “Mereka akan lupa akan Alloh, maka Alloh pun akan melupakan jiwa mereka, dan itulah orang yang fasik.”

“Di dalam hatilah terletak potensi ma’rifat kepada Alloh, dan hanya hati pulalah yang mempunyai kekuatan untuk muqorrobah kepada Alloh. Pada hati yang bersih, bersinar Nur Alloh. Ia akan menerima nikmat dan kebahagiaan dunia dan akhirat.”

Silakan direnungkan, insya Alloh selamat dunia akhirat. Aamiin.